Sabtu, 04 Juli 2009

Sholat Mayyit

Suatu hari, di sebuah aula Ponpes yang sangat luas, dihiasi beberapa santri yang sedang tidur, ada dua orang santri sedang berbicara masalah sholat mayyit:

Santri 1: " Kang kamu tau nggak, kenapa kalo kita sholat mayyit kok nggak ada ruku' sama sujudnya?"

Santri 2: "Kalo nanti kita tinggal ruku' atau sujud, dikhawatirkan mayyitnya akan dibawa kabur sama pencuri. Terus kalo sudah gitu yang kita sholati siapa donk?"

Santri 1: "Oooooo... ya juga ya, nanti kalo kejadiannya begitukan sholat mayyitnya nggak jadi, malah jadinya morat-marit."

(Selang beberapa detik kemudian)

Santri 1: "Itukan kalo ada yang mencuri, kalo gak ada gimana, apa boleh kita malakukan ruku' dan sujud?"

Santri 2: "Ya tetep nggak boleh donk, nanti kalo mayyitnya melarikan diri secara sembunyi-sembunyi gimana?"

Santri 1: "Emang ada mayyit seperti itu?"

Santri 2: "Bisa aja kan kalo mayyitnya takut mau ketemu sama Malaikat. Jadi dia melarikan diri umtuk bersembunyi."

(Selang beberapa saat kemudian)

Santri 1: "Kalo mayyitnya nggak takut sama Malaikat, kita boleh melakukan ruku' dan sujud nggak?"

Santri 2: "Ya masih tetep nggak boleh donk. Kalo kita melakukan ruku' atau sujudkan memakan waktu yang lama, nanti mayyitnya bisa marah , soalnya diakan ingin segera beristirahat dengan tenang. Jadi kalo kita sholat mayyit ya harus cepet gitu, biar mayyitnya bisa cepet sampai di tempat peristirahatan terakhir."

Santri 1: "Tapi kan sholatnya bisa dipercepat walaupun kita melakukan ruku' dan sujud."

Santri 2: "Itu malah tambah nggak boleh lagi, karena bisa memakan korban. Nanti, kalo sholatnya dipercepat, bisa jadi 70% lebih jidatnya para jama'ah akan kepentok lantai masjid saat sujud. Selain bisa merusak lantai Masjid, rasanya kan sakit minta ampun, apalagi kalo sampai ada yang nggak tertolong, gimana tuh jadinya?"

Santri 1: "Jadinya ya bukan sholat mayyit lagi, tetapi berubah menjadi sholat maut."

Santri 2: "Seterah, sak karepmu..............................................!

Kemudian santri- santri yang sedang tidurpun terbangun dan memarahi dua orang santri yang sedang beradu argument tersebut, dikarenakan keduanya dianggap sebagai biang keributan di Ponpes tersebut karena sering berdebat tidak jelas. Beberapa waktu lalu mereka sudah diluluskan dari menimba ilmu di Ponpes tersebut, namun mereka berdua tetap bersikukuh untuk tetap tinggal dan menimba ilmu di Ponpes tersebut. Karena itulah, santri-santri yang lain merasa terganggu dengan keberadaan mereka berdua. (Sebenarnya, mereka berdua terpaksa diluluskan karena sudah tidak ada lagi yang sanggup mengajarkan ilmu agama kepada mereka berdua. Terakhir, ada seorang ustadz yang hampir gila karena menangani kedua santri tersebut. Untung saja ustadz tersebut segera mendapat arahan dari Romo Kyai untuk segera mengasingkan diri alias bertapa di Gunung Kelud agar jiwanya tenang kembali)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar